Desa Sawarna di Banten Selatan, Tempo Doeloe Kawasan Perkebunan dan Pemerintahan Kabupaten Banten Kidul

Sawarna

Lebak, Bantengate.id–Desa Sawarna, di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Banten Selatan, sejak lama dikenal memiliki destinasi wisata pantai yang indah, yaitu; Pantai Sawarna dan Tanjunglayar.

Bacaan Lainnya
Erwin Komara Sukma, tokoh masyarakat Banten Selatan.–(***)

Pantai Sawarna,  memiliki pasir yang putih, lautnya masih bersih dan perbukitan hijau. Sementara, Tanjunglayar, adalah sebuah sebuah batu karang yang menjulang tinggi seperti layar terkembang, menghadang ombak. Deburan ombak laut Selatan yang menghantam karang ini, memiliki keunikan tersendiri, bak sebuah orkestra alam.

Di Pantai Sawarna, banyak wisatawan lokal dan asing yang datang untuk merasakan sensasi berselancar. Di Desa Sawarna terdapat juga destinasi wisata lainya; Tapak Sikabayan, Karang Bokor, Lawang Saketeng dan Goa Sangko.

Beberapa hotel, cottage dan cafe/kuliner, sejak beberapa tahun dibangun oleh Pemda Lebak, Banten, dan kalangan swasta, untuk menyambut kedatangan wisatawan.

Mengupas nama Sawarna tidak bisa dipisahkan dari Sejarah Kesultanan Banten dan  sejarah pembagian Wilayah Banten Kidul dan sejarah Kabupaten Lebak. Pembagian Wilayah Kesultanan Banten berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jendral Rafless pada tanggal 19 Maret 1813, bahwa  Kesultanan Banten di bagi menjadi 4 Wilayah yaitu; Banten Lor, Banten Kulon, Banten Tengah, dan Banten Kidul, dengan  Ibukota di Cilangkahan dengan Bupati Tumenggung Suradilaga.

Sementara, pembagian Wilayah Keresidenan Banten Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jendral Nomor a. Staatsblad nomor 18 Tahun 1828, Wilayah Banten di bagi menjadi 3 (Tiga)Kabupaten yaitu; Kabupaten Serang, Kabupaten Caringin dan Kabupaten Lebak. Wilayah Kabupaten Lebak berdasarkan pembagian wilayah memiliki batas-batas distrik dan onderdistrik diantaranya; Distrik Madhoor (Madur) terdiri dari Onderdistrik Binuangeun, Onderdistrik Sawarna dan Onderdistrik Madhoor.

Menurut Aa Erwin Komara Sukma, dalam wesbsite Desa Sawarna, sesuai dengan perkembangan Desa Sawarna mengalami beberapa kali pemekaran desa; Desa Sawarna (induk), Desa Lebak Tipar (pemekaran tahun 1980) dengan Penjabat  Kepala Desa Kamin Sumintardi, dan Desa Sawarna Timur (pemekaran Tahun 2010 ) dengan PJ Kepala Desa Sunawijaya.

Daerah Sawarna, kata Aa Erwin,  dulunya merupakan areal perkebunan dan Jean Louis Van gogh, sekitar abad ke 18.  Perkebunan Sawarna diduga kuat merupakan bagian dari perkebunan Pasir Badak Pelabuhan Ratu dan Perkebunan Sinagar Cikidang, Sukabumi. Komoditi yang ditanam adalah Lada dan Kopi. Tanaman tersebut, sekitar tahun 1970-an masih banyak ditemukan di daerah ini. Namun,  pada akhir abad 18  tanaman lada dan kopi,  mulai diganti dengan Kelapa.

Jean Louis Van Gogh lahir di Arheim Belanda pada tanggal 7 November 1883 meninggal di Sawarna 29 Maret 1930. Louis Van Gogh setelah lulus sekolah dikirim ke Indonesia, mengikuti Saudaranya yaitu Jhon Louis Van Gogh yang menjadi Menejer PerkebunanTeh Sinagar Cikidang Sukabumi ( Milik Mr.Kerkhopen) Jean Louis Van Gogh dikirim ke Sawarna sebagai pengawas perkebunan kelapa diperkirakan pada tahun 1907 .

Jean Louis Van Gogh adalah Saudara Vincent Van Gogh ( 30 Maret 1853), seorang pelukis/seniman terkenal Belanda. Saudara kandung Vincent Van Gogh diantaranya adalah – Anna Cornelia van Gogh (7 Pebruari 1855) – Theo Van Gogh ( 1 Mei 1857) – Elizabeth Humberta V G ( 16 Mei 1859) – Willem Van Gogh ( 20Maret 1862) -Cornelius Van Gogh ( 17 Mei 1867)

Jean Louis Van Gogh meninggal pada 29 Maret 1930 dan dikuburkan di Sawarna terkena serangan penyakit Malaria. Selanjut nya Pengawas Perkebunan Sawarna di gantikan oleh orang Belanda juga yaitu Tuan Dadho (panggilan akrab) sampai tahun 1955.

“Makam Jean Louis Van Gogh baru ditemukan awal saya jadi kepala desa tahun 2000 dan sempat di benahi. Namun sayang Nisan nya setelah dibenahi ada yang menghancurkan. Untung saja sempat didokumentasikan dan dikirim melalui surat kepada Kedutaan Besar Belanda dan keluarganya di Belanda dan Australia yaitu Louis Van Gogh.  Makam nya diperbaiki kembali tahun 2018 dengan dibuat nisan baru ( salah cetak nama Gough harus nya Gogh),”kata Erwin.

Adapun asal usul nama Sawarna, kata Erwin,  ada beberapa versi.   Pertama nama Sawarna diambil dari nama sungai yaitu Sungai Cisawarna, yang hulu sungainya berada di daerah Rabig Cibeber dan diatas hulu sungai nya ada sebuah kampung bernama Sawarna. Sungai ini mengalir hingga  muara sungai Cisawarna –

Kedua Sawarna,  berasal dari bahasa Sangsakerta yaitu Swharna yang artinya Emas. Nama Swharna berhubungan dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah dan indah. Ketiga Sawarna identik dengan sebuah penyakit dari jaman dahulu sampai tahun 70 an , berdasarkan penjelasan Seorang peneliti Belanda yang pernah datang ke Sawarna tahun 1968 bernama Tuan de Boer, bahwa masyarakat dari hulu sungai Cisawarna sampai ke muara sungai hampir semuanya terjangkit penyakit kulit atau panu. Sesuai dengan perkembangan jaman derajat kesehatan masyarakat yang berada sepanjang aliran sungai meningkat maka penyakit kulit tersebut berangsur hilang.

Kemudian, ada yang berendapat bahwa Sawarna berasal dari kata suarana atau sorana, yang mengandung makna Sawarna bakal sohor kamana mana atau terkenal, dengan banyaknya potensi dan keindahan alam nya. Keterkenalan Sawarna terbukti saat ini.–(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *