Lebak, BantenGate.id—Di pesisir selatan Banten, tepatnya di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, terdapat sebuah destinasi wisata Tapak Sikabayan, yang tidak hanya menyuguhkan panorama alam memukau, tetapi juga menyimpan sebuah legenda yang telah hidup di dalam masyarakat setempat selama berabad-abad. Tapak Sikabayan, di sekitar Tanjung Layar, menjadi tempat yang dihiasi dengan kisah mistis, menambah daya tariknya di kalangan wisatawan.
Pada liburan Idul Fitri 1446 H, destinasi wisata Tapak Sikabayan, Pantai Sawarna, Pantai Tanjung Layar, Pantai Kayakas, Pantai Bagedur, ramai di kunjungi wisatawan lokal. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Sawarna, Pantai Bagedur, dan Pantai Kayakas, pada hari ke-empat liburan Idul Fitri 1446 H, mencapai ribuan orang.
Tapak Sikabayan mendapatkan namanya dari jejak kaki besar yang terukir di batu karang. Jejak kaki ini begitu besar, tampak seperti dipahat oleh kekuatan gaib yang tak dapat dijelaskan oleh akal sehat. Namun, di balik jejak kaki tersebut, tersimpan kisah yang lebih dalam, yang kian menambah misteri tempat ini.
Menurut legenda yang berkembang di kalangan penduduk setempat, jejak kaki besar ini adalah milik seorang tokoh sakti yang sangat dihormati. Tokoh tersebut tidak hanya dikenal memiliki kekuatan luar biasa, tetapi juga diyakini dapat berhubungan dengan dunia gaib.
Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa tokoh sakti tersebut melindungi desa dari ancaman makhluk halus dengan kekuatan yang menakjubkan. Dalam salah satu pertempuran besar melawan makhluk jahat, sang tokoh berlari menuju Tanjung Layar, menghentikan serangan musuh, dan meninggalkan jejak kakinya yang besar di batu karang sebagai bukti keberanian dan kekuatannya.
Namun, tidak hanya sekadar cerita rakyat. Kisah ini mendapat dimensi baru berkat penuturan dari seorang tokoh lokal, Erwin Komara Sukma, yang kerap berbagi cerita melalui media sosial. Dalam salah satu unggahannya, Erwin menceritakan sebuah kisah fiksi yang beredar di kalangan orang tua setempat. Mereka percaya bahwa jejak kaki besar yang ada di Tapak Sikabayan adalah bekas tapak Nabi Adam, yang pertama kali turun ke dunia ini.
Menurut cerita tersebut, Nabi Adam memiliki tinggi sekitar 60 hasta atau sekitar 30 meter. Dengan memperhitungkan ukuran kaki manusia saat ini, Erwin melakukan pengukuran sendiri dan mendapati bahwa panjang jejak kaki tersebut dapat dikaitkan dengan ukuran tubuh Nabi Adam—sekitar 32 kaki (setara dengan 10 meter). “Ini bukan hanya soal ukuran kaki, tetapi tentang cerita yang hidup dan dipercaya oleh banyak orang,” kata Erwin, mengungkapkan pentingnya melestarikan warisan ini.
Makna Spiritual dan Keindahan Alam
Selain legendarisnya, Tapak Sikabayan juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Laut biru yang membentang luas, tebing-tebing curam yang mengelilingi Tanjung Layar, serta formasi batu karang yang dramatis membuat tempat ini menjadi destinasi yang sempurna bagi siapa saja yang ingin merasakan kedamaian atau menjelajahi keindahan alam.
Namun, ada hal yang lebih mendalam dari sekadar pemandangan yang memukau. Jejak kaki besar yang ada di batu karang ini tidak hanya menjadi bagian dari legenda, tapi bagi sebagian masyarakat dianggap sebagai tempat memiliki nilai spiritual tinggi.
Seiring berjalannya waktu, kisah tentang Tapak Sikabayan terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Erwin Komara Sukma, yang aktif mempromosikan budaya lokal, turut berperan penting dalam memperkenalkan tempat ini ke dunia luar.
Melalui akun media sosialnya, Erwin yang juga mantan Kades Sawarna, membagikan cerita-cerita menarik, foto, dan video yang tidak hanya menggambarkan keindahan alam, tetapi juga mengungkapkan sisi mistis dari Tapak Sikabayan. Tidak hanya menarik minat wisatawan, tulisan-tulisan Erwin juga mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian warisan budaya yang ada.
Salah satu cerita menarik datang dari masyarakat Baduy, yang memiliki pandangan berbeda tentang Tapak Sikabayan. Menurut mereka, Nabi Adam dikisahkan turun di Gunung Kendeng, yang merupakan satu alur dengan kawasan Sawarna. Dari sana, Nabi Adam, melangkahkan kakinya ke arah selatan, dan meninggalkan jejak kaki yang tapaknya ada di sekitar Tanjung Layar.
Dalam cerita yang lebih dalam, ada hubungan simbolis antara tempat-tempat di sekitar Tanjung Layar. Karang Bokor, Karang Bodas, Karang Beureum, dan Tanjung Layar itu sendiri dipercaya sebagai bagian dari kisah sakral yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
Konon, dahulu, sebelum rokok dikenal, masyarakat setempat menggunakan sirih untuk berdoa. Karang-karang tersebut diyakini memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan kebiasaan adat, di mana Karang Bokor adalah tempat sirih, Tanjung Layar adalah tempat sirihnya, Karang Bodas sebagai apunya, dan Karang Beureum sebagai bekas dahirnya (tempat meludah). “wallahu a’lam bishawab”.—(dimas)