Eko Yulianto: Pelacak Jejak Tsunami Purba Di Lebak Selatan

Ilustrasi Tsunami

BANTENGATE.ID, LEBAK:– Jejak tsunami purba ditemukan di Selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hal ini diungkap oleh Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut disampaikan Eko Yulianto saat webinar bersama U-INSPIRE Indonesia, ITB, UMN, BSM Umat, Sky Volunteer, BMKG Stasiun Meteorologi Serang, Gugus Mitigasi Lebak Selatan dan Camat Panggarangan Kabupaten Lebak, hari Minggu (7/2/2021) lalu.

Berdasarkan penelitian LIPI, hasil riset modern membuktikan bahwa di masa lalu sudah terjadi gempa tsunami dengan mengambil sampel di rawa Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak.

Eko mengatakan, LIPI melakukan uji sampling di rawa Binuangeun pada tahun 2015. Dan dari uji tersebut peneliti menemukan batang kayu berukuran besar yang diperkirakan telah terpendam di dalam lumpur sekitar 350-400 tahun.

Peneliti kemudian melakukan pengeboran dan mengambil sampel endapan pasir, dan hasilnya ditemukan plankton di lapisan sampel pasir tersebut. Hal itu menjadi indikasi ada mekanisme proses yang membawa plankton ke darat yang diduga karena tsunami.

“Selain itu, di Tanjung Binuangeun terdapat koral bercabang yang masih utuh. Koral bercabang mestinya tumbuh di dasar laut, tapi ini malahan muncul di permukaan. Ini fenomena menarik karena posisi normal mestinya ada di dasar laut,” jelas Eko.

Catatan soal bencana tsunami di Indonesia baru ditemukan pada sekitar tahun 1600-an, setelah kedatangan bangsa Eropa. Berdasarkan catatan sejarah bencana alam tersebut, sudah beberapa kali terjadi tsunami di nusantara.

Eko Yulianto mengatakan gempa dan tsunami raksasa akan berulang di jalur-jalur tunjaman lempeng.

“Gempa dan tsunami raksasa dari jalur-jalur tunjaman lempeng dipastikan terjadi berulang. Jalur-jalur ini akan tetap menghasilkan gempa dan tsunami raksasa di masa datang. Tiap-tiap jalur memiliki waktu perulangan ratusan hingga ribuan tahun,” kata Eko.

Eko menuturkan dari hitungan hipotetik MacCaffrey, yang merupakan seorang ahli geofisika Amerika, jalur subduksi selatan Jawa berpotensi memicu gempa magnitudo 9,6 yang berulang 675 tahun sekali.

Ia menambahkan, perlu menjadi perhatian bahwa hasil penelitian mutakhir endapan tsunami di dalam Gua Laut di Aceh selama kurun 7.400 tahun terakhir menunjukkan perulangan tsunami dan gempa tidak benar-benar periodik. Dalam satu periode waktu tertentu, tsunami lebih sering terjadi daripada periode lainnya.

“Ini sebuah pesan kuat bahwa masyarakat harus senantiasa siap siaga sepanjang waktu guna menghadapi ancaman gempa dan tsunami,” tutur Eko.

Eko mengatakan perlu mitigasi bencana dalam menyikapi potensi bencana yang ada di Indonesia.

“Bersyukur di Lebak Selatan sudah ada sekelompok orang yang fokus terhadap antisipasi dan mitigasi bencana, Pak Anis dan timnya. Mereka orang-orang hebat,” pungkas Eko.– (vina/dimas)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *