Enam Tahun Kasus Misteri Kematian Ayu Oktaviani Mahasiswa Akbid Latansa, Belum Terungkap

6 Tahun Kasus Misteri Kematian Ayu Oktaviani Mahasiswa Akbid Latansa, Belum Terungkap

Lebak, Bantengate.id– Enam tahun kasus kematian Ayu Oktaviani, mahasiswi Akbid Latansa Mashiro, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, yang dtemukan mengenaskan oleh penambang pasir di kali Ciujung, Jumat (24/3/2017), hingga kini masih misteri.  Aparat Polres Lebak, belum berhasil mengungkap, dibalik peristiwa yang merenggut nyawa mahasiswi tersebut.

Bacaan Lainnya

Yayan Sumaryono SH, dari Kantor Hukum YLBH Cakranegara, selaku kuasa hukum orang tua Ayu Oktaviani, mengatakan, sudah hampir enam tahun peristiwa ini terjadi dan  hingga kini belum ada kejelasan dari pihak Kepolisian Resort Lebak yang menangani  kasus  kematian  mahasiswi akbid warga Kampung Jaura, Rangkasbitung.

“Saya selaku kuasa hukum dari Pak Amas dan Bu Yuyun  (orang tua Ayu Oktaviani), meminta ketegasan dan kejelasan dari aparat penyidik seperti apa alur yang menyebabkan meninggalnya Ayu Oktaviani, karena berdasarkan hasil otopsi ada bekas cekikan di leher korban dan meminta agar pelaku segera dapat ditangkap,” ujar Yayan Sumaryono SH, kepada sejumlah awak media di Rangkasbitung, Senin (5/06/2023).

Ditegaskan Yayan, pengungkapan kasus kematian Ayu Oktaviani oleh aparat Polres Lebak sudah  berjalan sekitar  enam tahun dan terkesan mandeg. Oleh karena itu, Tim Kuasa Hukum dari YLBH Cakranegara, akan terus mengawal pengungkapan dibalik peristiwa tersebut sampai selesai dan akan bersurat ke Mabes POLRI, Polda Banten, Menkopolhukam dan  Komisi 3 DPR RI.

Sementara itu, Yuyun (47 tahun) ibu almarhum Ayu Oktaviani, menjelaskan, bahwa kematian puterinya diduga sebagai korban pembunuhan. Berdasarkan hasil otopsi, dileher korban terdapat bekas cekikan. Jadi saya menduga kuat korban meninggal di darat sebelum dihanyutkan ke Sungai Ciujung.

Sebelum tragedi mengenaskan itu terjadi, pada malam hari saya di telepon anak saya sambil nangis pengen pulang ke rumah. Saya heran kan belum waktunya pulang. Keesokan harinya, saya dikabari pihak kampus bahwa anak saya tidak ada di asrama. Saya panik saya langsung nyari anak saya. Saya sangat kaget, anak saya ditemukan warga tewas di sungai Ciujung sekitar Kampung Baturambang, pada Jumat (24/3/2017) dan sedang dibawa ke RSUD Adjidarmo. Saya langsung bergegas menuju rumah sakit dan benar bahwa mayat tersebut anak saya, Ayu Oktaviani,” kata Yuyun  dengan suara berat menahan kepiluan.

Di RSUD sudah banyak anggota Polisi dan kepada Saya menyarakan, agar mayat tersebut di otopsi. Saya pun tidak berkeberatan dan mengizinkan. Setelah beberapa hari otopsi selesai dan hasilnya keluar; dijelaskan ada bekas cekikan di leher, tulang lidahnya putus, juga ada bekas pukulan di belakang kepala. Tapi tidak ada sidik jari yang ditemukan. Jadi saya menduga kuat, bahwa anak saya meninggal karena dibunuh seseorang,” jelas Yuyun warga Kampung Jaura, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung.

Saat Ayu Oktaviani, pulang pada Sabtu (18/3/2017) sore, atau sepekan setelah ditemukan menjadi  mayat sempat bercerita bahwa almarhum menghadapi masalah di asrama Kampus La Tansa Mashiro. Alat komunikasi milik almarhum sempat dirampas dan file dalam perangkat tersebut dibuka oleh petugas asrama kebidanan. Kondisi tersebut membuat Ayu tertekan.

“Handphonenya dirazia, terus ada omongan dari ibu asrama namanya Liana. Kata-kata ibu asrama ke anak saya benar-benar tidak pantas diucapkan dan memalukan.  Kalaupun di asrama dilarang membawa alat komunikasi (handphone), kan bisa disampaikan dengan cara bijak,” tutur Yuyun.

Pihak Kampus, kata Yuyun,  juga terkesan lalai, saat Ayu keluar dari kampus pada Rabu (22/3/2017) malam. Saat itu, Ayu keluar dengan alasan akan menuju ruang mesin ATM yang berada di samping gerbang kampus dan diizinkan pihak security. Namun tidak  melakukan pengawasan atau mengecek kembali apakah almarhum sudah kembali ke asrama atau belum.  Malah keesokan harinya menyampaikan kepada keluarga, bawa Ayu tidak ada di asrama.

Pihak keluarga mencari informasi kepada sanak keluaga dan rekan terdekat. Pada hari Jumat (24/3/2017), didapat kabar bahwa Ayu Oktaviana, ditemukan para penambang pasir  sudah menjadi mayat dan terapung di Sungai Ciujung, di sekitar Kampung Baturambang.–(ridwan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *