Guriang Music Unplugged : Gelar Konser di Bulan Kasih

BANTENGATE.ID, LEBAK:– Kehidupan sosial, budaya, politik, dan sendi kehidupan lain mengalami perubahan besar menghadapi pandemic. Tidak hanya Indonesia, seluruh dunia merasakan keadaan yang sama. Keterbatasan dan jarak menjadi sangat berarti, membentuk karakter manusia. Di masa ini pula semua perasaan campur aduk menjadi satu, ibarat sayur asem. Pandemic menjadi tungku besar, menggodok kejiwaan manusia.

Bacaan Lainnya

Guriang mencoba menghadirkan musik sebagai kekuatan tanpa distorsi, tanpa efek, tanpa embel-embel apapun. Kekuatan musikalitas menangkap persoalan kita hari ini, sebagai bumbu membangkitkan semangat hidup kian berjarak. Musik dinikmati dengan begitu intim dan jujur.

Kenapa sayur asem? Kuliner ini begitu khas di lidah masyarakat Sunda. Bumbu racikan warisan nenek moyang sebagai teman lauk, lalap, dan sambal. Menu sederhana tapi begitu menggugah selera, membuat nafsu makan bertambah. Kata sederhana, khas, dan memiliki kekuatan, itu yang kemudian diambil sebagai tema acara music Unplugged.

Lirik yang kritis, filosofis, dan peka terhadap persoalan social hari ini seumpama rempah yang membuat sayur asem ini menjadi sedap. Lagu adalah penyajian dalam mangkuk yang cantik, dan siap dinikmati selagi hangat. Musik jadi penyembuhan, meredakan krisis kemanusiaan yang terus menyusut, terapis, mengendorkan otot-otot yang kejang setelah seharian bekerja, dan musik menyampaikan kritiknya dengan halus.

Meski pemaparan di atas ditangkap secara global, tapi soal rasa kita memiliki cara tersendiri menikmatinya. Silahkan membuat bumbu yang lezat, dan ketika adonan lirik dan lagunya selesai segera kirimkan dengan cara hastag di instagram Teater Guriang. Dalam video yang dikirimkan sertakan pula lirik lagu agar kurator merasakannya tanpa ada bumbu yang terlewat. Tidak ada kriteria atau batasan media untuk merekam video yang dikirimkan, dengan catatan tidak merusak keutuhan karya.

Para kurator yang akan terlibat pun tak main-main, telah diundang untuk event special ini diantarannya sosok yang tidak asing lagi Edi Bonetski dari Semanggi Center, Reo Momonon dari praktisi musik, Dadang Dwi Septiyan pakar musikolog dan Fariz Alwan dari Parahyena.

Majid selaku penggagas acara mengatakan, untuk pengiriman karya paling telat 15 Desember 2020. Boleh kelompok atau individu. Semua jenis genre music. Kurasi dilakukan dari 16 s.d. 21 Desember. Dari sekian banyak karya yang masuk, kurator mengambil tujuh  peserta pilihan untuk live unplugged music performance di amphi Teater Guriang tanggal 25 Desember. Pengumuman hasil kurasi tanggal 22 Desember 2020.

“Untuk tujuh peserta live unplugged music performance, bakal diambil satu terbaik untuk merekam karyanya gratis di Stromp Record. Kurang asem apalagi coba, buktikan racikan musikmu lewat event ini, jangan sampai terlewat,” pungkas Majid. — (dimas)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *