Ini Lebak Kita, Meniscayakan Potensi Perantau

PEMILU, Perjuangan Vs Kecurangan

Ini Lebak Kita, Meniscayakan Potensi Perantau

Oleh, Dian Martiani

MEMPERHATIKAN dan membaca pemberitaan mengenai apa yang terjadi di Kabupaten Lebak, Banten,  beberapa waktu belakangan ini membuat kita sedikit miris.  Bencana Puting Beliung, banjir dan longsor, putusnya jembatan gantung, dan sawah kekeringan adalah sebagian redaksi yang mewarnai media yang menggambarkan kondisi Lebak hari-hari terakhir. Pemberitaan yang cukup memprihatinkan.

Bacaan Lainnya

Dalam waktu yang hampir bersamaan Tribun.com Lebak memberitakan bahwa Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Lebak dan Bupati Ibu Hj. Iti Octavia Jayabaya pada Senin (14/12/2020).

Selain itu, Kabupaten Lebak juga meraih Penghargaan Inagara Award 2020 diberikan oleh Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN-RI).  Ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada Pemerintah Daerah yang dinilai melakukan terobosan inovasi terbaik dalam bidang administrasi pemerintahan dan pelayanan Publik.

Dua berita, diantara banyak berita positif di atas bagaikan oase yang dirasakan di tengah berita-berita memprihatinkan yang beredar di media mengenai Kabupaten Lebak.  Selain piawai memanjat pohon, Bupati Lebak Hj Iti Octavia Jayabaya, memang dikenal Bupati yang banyak menorehkan prestasi.  Berbagai penghargaan prestasi itulah salahsatu yang menghantarkan beliau memperoleh penghargaan bupati terbaik se-Asia tahun 2019 atau “Asia best regent of the year 2019” versi Asia Global Award 2019  yang digelar Asia Global Council dan Seven Media Asia(Lebak, Antara).

Potensi Kabupaten Lebak yang meliputi Potensi alam, potensi Destinasi Wisata, dan potensi kekhasan Budaya sebenarnya adalah potensi yang niscaya untuk dikembangkan.  Pengelolaan yang baik atas semua potensi itu adalah modal yang sangat berharga menuju Kabupaten Lebak Maju dan Sejahtera.  Namun sangat naif jika tugas memajukan dan mensejahterakan rakyat hanya kita tumpangkan pada pundak seorang Bupati dan pejabat pemerintahan Kapubaten Lebak saja.

Perlu diciptakan sistem sinergi pemberdayaan yang bersifat kolaboratif yang merangkul semua pihak yang meniscayakan peluang kontribusi yang lebih maksimal.  Kajian strategis berupa perencanaan dan pemetaan potensi ekstra pemerintahan dan ekstra parlemen, hendaknya menjadi satu kajian yang diprioritaskan.  Sudah banyak contoh daerah di Indonesia yang menunjukkan kemajuan daerahnya yang ditopang oleh kemandirian dan kontribusi maksimal dari penduduknya.

Merubah konstruksi pemikiran masyarakat bahwa sesungguhnya mereka adalah subjek pembangunan baik fisik, sosial, budaya, dan religi memang membutuhkan proses yang tidak sebentar. Tetapi, hal itu juga bukan sesuatu yang mustahil.  Oleh karena itu, proses ini harus direncanakan secara masif dan berkesinambungan, dengan menggandeng berbagai pihak sebagai mitra.  Sebagai langkah awal, tentu harus ada inisiasi dari pemerintah untuk menginventarisir dan mengorganisir potensi-potensi tersebut, agar konsep kontribusi yang di gagas dapat lebih tertata dan terukur tingkat keberhasilannya.

Diantara pihak-pihak yang bisa dirangkul adalah tokoh masyarakat baik tokoh formal maupun informal, pelaku UMKM, Partai Politik, Akademisi/Kaum Intelek, Organisasi Masyarakat, Organisasi Pemuda, dan berbagai Komunitas yang saat ini tumbuh subur.   Satu potensi yang belum maksimal pemberdayaannya adalah Potensi Perantau Lebak yang tersebar diberbagai daerah, bahkan diberbagai negara.

Di Kabupaten Lebak saja dapat kita jumpai perkumpulan-perkumpulan perantau yang tidak hanya mengangkatkan acara silaturahim antar mereka, namun juga kerap melakukan penggalangan-penggalangan dana untuk kepentingan kebutuhan anggaran yang disalurkan ke daerah asalnya. Anggaran yang dimaksud semisal bantuan bencana, badoncek(iuran) membangun kampungnya, bahkan bantuan penyelenggaraanbaralek(perhelatan) pernikahan anak kemenakan sesuku, maupun baralek tagak penghulu (pengangkatan kepala suku).

Laman BantenHits pernah mengangkatkan tulisan tentang Ikatan Keluarga Koto Tangah (IKKT) Lebak-Pandeglang yang (pernah) diketuai oleh  Notaris di Lebak Jhon Heri Azmi dan Herdi Thaher sebagai wakil ketua.  Mereka mengaku selain sebagai wadah untuk bersilaturahim, bertemu di perkumpulan dengan sesama perantau, sedikit banyak mengobati kerinduan mereka terhadap kampung halaman.  Perwata (Persatuan Warga Tanjung Alai), organisasi serupa, juga aktif berkumpul dan berkegiatan di Kabupaten Lebak.

Sumatera Barat atau Ranah Minang memang dikenal memiliki banyak perantau, tidak hanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, namun juga tersebar sampai hampir ke seluruh negara yang ada di dunia. Kita yang pernah berkunjung atau beribadah ke Mekah dan Madinah pasti menjumpai perantau Minang di sana.  Begitu pula di Amerika Serikat.  Uniknya, dimanapun mereka berada, selalu berserikat dan berkumpul, dan sedikit banyak dana mereka selalu sampai di kampung halaman, meskipun mereka secara fisik tidak pulang.

Ikatan emosi terhadap kampung halaman telah mampu mengikat hati-hati mereka, sehingga ketika terjadi sesuatu di kampungnya, mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk membantu kegiatan, pembangunan, atau bencana yang terjadi di kampung mereka.  Semangat ini mungkin yang dapat dijadikan pelajaran sekaligus inspirasi bagi pemerintah Kabupaten Lebak untuk memulai mendorong terbentuknya organisasi Perantau Lebak yang ada di daerah/negara lain.

Sebagai langkah awal, perangkat Pemerintah Daerah semisal Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) mungkin dapat menginventarisir bahkan menginisiasi terbentuknya organisasi seperti ini.   Bekerja sama dengan Mahasiswa Lebak yang sedang mengambil Pendidikan di sebuah kota tertentu, dapat juga sebagai alternatif pembuatan cikal bakal organisasi serupa.  Ikatan emosi terhadap kampung halaman, meniscayakan peluang kontribusi perantau terhadap negeri asalnya, Kabupaten Lebak, menjadi sangat besar.

Meskipun Perantau dilarang pulang saat Pandemi Covid-19 seperti ini, paling tidak kerinduan terhadap kampung halaman mungkin bisa diwakilkan dengan meminta pulang “uangnya” dalam bentuk bantuan untuk berbagai keperluan.  Mungkin rasa bahagianya akan sama dengan jika mereka pulang secara fisik.  Bahagia sekaligus berdaya.–(***)

*) Penulis; pemerhati pendidikan, lahir di Lebak dan tinggal  di Kota Padang, Sumbar  

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *