Pembelajaran Daring (berkepanjangan), Melanggar Fitrah Anak

Pembelajaran Daring (berkepanjangan), Melanggar Fitrah Anak

Oleh,  Dian Martiani

HARAPAN memasuki tahun ajaran baru 2021/2022 pembelajaran di sekolah sudah dapat berjalan normal, rupanya belum bisa mewujud menjadi kenyataan. Entah sebuah kebetulan atau bukan, jika tahun ajaran baru kan menjelang, angka keterpaparan Covid-19 selalu melonjak. Berujung pada kebijakan pembatasan aktivitas yang menghasilkan beragam istilah.

Bacaan Lainnya

Lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan Terakhir PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) adalah istilah-istilah yang digunakan untuk membatasi gerak masyarakat akibat peningkatan kasus Covid-19.  Imbasnya, pada daerah tertentu, menyebabkan kebijakan pembelajaran harus dijalankan secara jarak jauh (Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ) atau dikenal dengan istilah daring(dalam jaringan).

Saya teringat, keluhan para orang tua berpenghasilan menengah kebawah yang bekerja pada sektor-sektor informal, semisal pengemudi angkutan kota, tukang pijit, tukang pangkas, tukang parkir, pedagang kaki lima, dan lain-lain.  Mereka termasuk yang terdampak karena Covid-19, kondisi ekonomi melemah, namun dituntut pengeluaran ekstra berupa pengadaan alat daring dan biaya paket bagi pembelajaran anak-anaknya.

Sebagian besar siswa-siswa yang menjalani pembelajaran secara daringpun mengalami kejenuhan.  Karena, fitrahnya, anak-anak usia sekolah itu memiliki kebutuhan bersosialisasi dan melakukan gerakan fisik yang memadai sebagai tugas perkembangannya. Pembelajaran jarak jauh menyebabkan mereka lebih banyak duduk diam memelototi layar kaca dihadapannya.  Terasa seperti penjajahan kemerdekaan bagi anak seusia mereka.

Mengutip laman hellosehat, perkembangan sosial adalah proses saat anak belajar berinteraksi atau bersosialisasi dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Perkembangan sosial yang baik juga membuat anak mampu menangani konflik dengan teman-temannya. Kemampuan sosial bagi anak penting untuk berkembang dengan baik karena dapat mempengaruhi kemampuan anak di sisi lainnya, termasuk kognitif dan emosi.  Bahkan, kemampuan sosial anak yang berkembang dengan baik membantu menumbuhkan rasa empati di dalam dirinya.

Banyak dampak negatif yang akan muncul apabila anak melewatkan tugas-tugas perkembangannya, termasuk perkembangan sosial. Beberapa tugas perkembangan anak menjadi terhambat sebelum tugas perkembangan sebelumnya terpenuhi.  Anak dapat pula menjadi kurang dewasa dalam menyikapi masalah karena mereka melewati hal yang membuat mereka mempersiapkan sesuatunya. Dampak ini akan terasa pengaruhnya sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan, saat mereka kelak menjadi seorang pemimpin.

Parahnya, kebijakan daring ini diberlakukan bagi semua jenjang pendidikan, mulai Anak Usia Dini sampai mahasiswa. Padahal menurut pakar Pendidikan anak, Irwan Rinaldi, dalam sebuah Webinar mengatakan, pembelajaran daring hanya cocok diberlakukan untuk anak usia dua belas tahun ke atas.  Itupun dengan catatan, pembelajarannya tidak monoton, disertai Teknik penjagaan konsentrasi semisal teknik pomodoro.

Anak, di setiap tahapan usia, memiliki rentang perhatian berbeda yang menentukan sejauh mana ia bisa berkonsentrasi dalam beraktivitas termasuk saat belajar (Kompas.com).  Lama bertahannya konsentrasi belajar atau aktifitas lainnya berbeda-beda, sesuai umur, rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit.  Sejatinya satu kegiatan yang sama, tidak melebihi waktu 30-45 menit, harus ada jeda.  Semakin kecil usia anak, tingkat konsentrasi semakin kecil.

Teknik Pomodoro adalah filosofi manajemen waktu di mana kita yang melakukannya harus fokus secara maksimal dalam jangka waktu yang disediakan.  Teknik ini ditemukan oleh Francesco Cirillo pada awal 90-an.  Teknik ini menawarkan produktivitas, sebab istirahat di sela-sela tugas dapat membuat pikiran anak akan tetap pokus (hellosehat.com).  Jika anak tingkat konsentrasinya maksimal 30 menit, maka setiap 30 menit anak harus diberikan istirahat, atau melakukan aktifitas lain, selain belajar sebagai penyegaran.

Laman Edulogy menyebutkan anak-anak memerlukan bantuan dari lingkungan untuk membantu mereka memenuhi tugas perkembangannya. Salah satu pihak yang membantu dan turut berperan dalam perkembangan anak adalah sekolah.  Peranan sekolah, terutama guru pada anak usia sekolah ini sangat besar. Rusaknya pola interaksi guru-siswa karena pembelajaran daring ini menimbulkan Stress akademik (Irwan Rinaldi).  Stress ini dialami baik oleh peserta didik maupun orang tua peserta didik.

Disampaikan Irwan, sebuah survey internasional menyebutkan bahwa negara Indonesia menempati Rangking dua dunia dimana orang tua benar-benar menyerahkan proses Pendidikan kepada sekolah.  Kebanyakan orang tua di Indonesia hanya memfungsikan diri sebagai penyedia fasilitas (belajar) saja.  Pembelajaran daring menyebabkan mereka harus berfungsi sebagai pendamping belajar.  Inilah yang menyebabkan orangtuapun mengalami stress akademik, apalagi bagi orang tua yang kedua-duanya juga bekerja dengan jumlah anak sekolah lebih dari satu orang.

Banyak guru berkesimpulan, pembelajaran daring menyebabkan tingkat pemahaman, perkembangan sosial, perkembangan karakter, dan perkembangan spiritual siswa tidak dapat mencapai target sebagaimana yang diharapkan.  Hal ini dikhawatirkan tidak dapat memenuhi tujuan Pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003.

Didalam salah satu kaidah ilmu Fiqih, kita mengenal cabang ilmu fiqih yaitu Fiqih aulawiyat (Fiqih Prioritas). Pengertiannya adalah apabila berbenturan antara menghilangkan sebuah kemadharatan dengan yang membawa kemaslahatan dan-atau manfaat, maka didahulukan menghilangkan kemadharatan, kecuali madharat itu lebih kecil dibandingkan dengan maslahat yang akan ditimbulkan (temanshalih.com).

Sebagai orang awam, saya mengharapkan ada pakar yang mengkaji akan hal ini.  Mana yang lebih madharat dampak pembelajaran daring yang berkepanjangan, ataukah dampak terkena Covid-19, jika kita menerapkan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat.  Pemimpin suatu negara, memiliki kewajiban menciptakan SDM unggul, yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin dimasa depan.  Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia adalah bagian dari proses dan tujuan dalam pembangunan nasional Indonesis (Kemenko PMK).

Kita khawatir, jika proses Pendidikan yang tidak optimal, menyebabkan menurunnya kualitas kualitas SDM negeri ini.  Allah mengingatkan kepada kita dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak/generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”.  Jika kita termasuk orang yang takut kepada Allah, hendaknya kita sama-sama memikirkan mana langkah yang lebih baik yang kita ambil untuk menyelamatkan generasi.  Hal yang menarik untuk didiskusikan.

Wallahualam.-

*Penulis adalah Praktisi Pendidikan, memiliki 5 anak Sekolah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *