Perempuan Berdaya Penguat Ekonomi Keluarga

Perempuan Berdaya Penguat Ekonomi Keluarga

Oleh Tantri Mega Sanjaya, M.Pd

PANDEMI akibat covid-19 sudah memasuki tahun kedua. Begitu banyak peristiwa yang terjadi akibat perubahan pola kehidupan sebagai adaptasi pandemi ini, salah satunya permasalahan ekonomi.  Aktivitas sosial yang merupakan bagian penggerak perekonomian mengalami pembatasan. Akibatnya banyak orang mengalami  PHK, kehilangan pekerjaan, atau pendapatan menjadi jauh menurun. Bagi sebagian orang tidak mudah beradaptasi dan menerima kondisi baru yang kurang mengenakkan, sehingga muncul berbagai macam reaksi.

Bacaan Lainnya

Menurut data kategorisasi pengadilan agama tahun 2020 dalam Catahu 2021, jumlah perkara perceraian yang sudah diputuskan pengadilan agama sebanyak 355.888 perkara. Dari jumlah tersebut sebanyak 214.970 merupakan kasus gugatan yang diajukan oleh pihak perempuan. Permasalahan ekonomi menempati peringkat kedua dari 13 kategori penyebab perceraian.

Sementara itu, data tentang pertambahan jumlah kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah orang miskin hingga akhir Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang. Naik 1,12 juta orang dibandingkan dengan akhir Maret 2020.

Menjalani kondisi pandemi tentu tidak mudah. Perempuan harus berdaya. Berusaha mengambil peran positif dalam proses ketahanan ekonomi keluarga agar angka perceraian dan kemiskinan tidak semakin banyak. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan agar perempuan tetap bisa berdaya, mampu menjadi penguat ekonomi dalam keluarga.

Pertama, menyadari kekuatan diri. Perempuan harus menyadari bahwa ia memiliki potensi besar untuk melakukan perubahan. Perempuan yang bernama ibu adalah pusat energi di dalam rumah tangga. Kalau ibu tangguh dan bahagia, seluruh isi rumah akan merasakan vibrasi ketangguhan dan kebahagiaan. Meskipun banyak beraktivitas di rumah dengan kesibukan melayani keluarga, seorang ibu tetap harus selalu men-gupgradediri. Gemar belajar, melek informasi, melatih kreativitas, mampu berinovasi dan fokus pada solusi. Perempuan harus berfikir dan melakukan hal-hal positif.

Kedua, pandai mengelola keuangan. Kadang masalah keuangan dalam keluarga bukan karena uangnya yang sedikit tapi bisa jadi karena cara mendapatkannya yang tidak benar atau ketidakberdayaan dalam mengelola keuangan.

Allah berfirman dalam surah At Talaq ayat 3, yang berbunyi : “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu

Allah sudah berjanji bahwa akan mencukupkan setiap keperluan hamba-Nya. Tugas hamba adalah bersungguh-sungguh untuk mengusahakan selanjutnya menyerahkan kepada Allah. Bersungguh sungguh baik dalam proses mendapatkannya maupun dalam mengelolanya.

Perempuan jangan membebani suami di luar batas kemampuan dalam menafkahi dan selalu mendoakan kebaikan. Sehingga suami akan tenang dalam bekerja dan tidak tergiur dengan harta yang bukan menjadi haknya. Perempuan juga harus pandai mengelola keuangan. Keluarkan sebagian harta, karena di dalamnya ada hak orang lain. Sesuaikan juga jumlah pengeluaran dengan jumlah pemasukan. Utamakan kebutuhan primer. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Sebisa mungkin menghindari utang. Seandainya harus berutang menurut pakar keuangan, maksimal utang 30% dari pendapatan.

Ketiga, menyiasati keuangan. Banyak keluarga yang terkena dampak pandemi dari segi ekonomi. Ada yang terkena pemotongan gaji, ada juga yang terkena PHK. Tidak perlu mengeluhkan keadaaan. Fokus pada solusi. Kemampuan menyiasati keuangan sangat penting. Misalnya dengan menekan pengeluaran. Kalau biasanya untuk makan sehari mengeluarkan uang Rp 50.000, karena menyesuaikan harus cukup dengan Rp 25.000. Bisa dengan mencari makanan alternatif yang lebih murah tanpa mengurangi nilai gizi. Misal biasanya membeli beras harga Rp. 13.000 per liter maka bisa ganti dengan beras harga Rp. 9.000 per liter. Biasanya makan dengan lauk ayam, sekarang diganti dengan tahu atau tempe. Komunikasikan secara baik dan penuh kebahagiaan dengan seluruh anggota keluarga.

Selain itu, bisa dengan memanfaatkan keterampilan yang bisa mendatangkan pemasukan tambahan. Bisa dengan melakukan aktivitas bertanam. Menanam sayuran ataupun kebutuhan pangan di lahan yang kita miliki. Ini tentu saja akan mengurangi budget belanja untuk keperluan makan sehari-hari. Jika perlu libatkan anak-anak dengan penuh sukacita dalam menjalankan prosesnya. Bagi yang suka memasak bisa berjualan, untuk mengurangi risiko kerugian bisa menjual dengan sistem free order. Selain itu bisa juga memanfaatkan smartphone untuk berbisnis online.

Perempuan bebas memilih. Mau menyalahkan keadaan atau berdaya dengan memperjuangkan kehidupan. Namun, hidup akan lebih berarti jika selalu fokus pada solusi. Semangat wahai perempuan, kalian hebat !  – (***)

*). Penulis Dosen Kampus La Tansa Mashiro, Tinggal di Kota Rangkasbitung-Banten

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *