Pondok Pesantren Salafiyah “Al-Muhajirin” Pelajari Fikih dan Al-Hadist

Pondok Pesantren Salafi “Al-Muhajirin” di Desa Awilega Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang – (Photo: Dadi-bantengate..id)

BANTENGATE.ID, PANDEGLANG:– Pesantren Salaf atau umumnya disebut Pondok Pesantren Salafiyah adalah sebutan bagi Pondok Pesantren yang mengkaji Kitab-kitab Kuning hasil karya para ulama-ulama terdahulu.
Seperti halnya terlihat pada Pondok Pesantren “Al-Muhajirin” yang berlokasi di Kampung Awilega Desa Awilega Kecamatan Koroncong Pandeglang.
Pondok Pesantren yang berdiri sejak tahun 1995 ini, didirikan oleh seorang ulama yang berasal dari Kota Tangerang.

Bacaan Lainnya

Berbeda dengan pondok pesantren modern pada umumnya, baik dalam hal metode pengajaran maupun infrastrukturnya, di Pondok Pesantren ini, santri belajar menimba ilmu disebuah tempat berdindingkan bilik yang terbuat dari anyaman bambu beralaskan papan yang acap disebut “Kobong” hingga menambah kesan klasikal atau tradisional pada pondok pesantren. Hubungan antara ustad atau kiyai dengan santrinya pun, terlihat cukup dekat secara emosional, karena sang ustad atau Kiyai terjun langsung dalam menangani para santrinya.

Kepada bantengate.com, Jum’at (13/11/2020), Kiyai Sudirman yang merupakan tokoh pendiri sekaligus pengajar di pondok pesantren Salafiyah ini mengatakan, pada dasarnya pesantren salafiyah adalah bentuk asli dari lembaga pesantren itu sendiri. Sejak munculnya pesantren, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf, dimana kata salaf merupakan bahasa Arab yang berarti terdahulu, klasik, kuno atau tradisional.

“Metode belajar mengajar di pesantren salafiyah “Al-Muhajirin” ini terbagi menjadi dua yaitu metode sorogan wetonan dan metode klasikal. Metode sorogan adalah sistem belajar mengajar di mana santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan sistem weton adalah kyai membaca kitab yang dikaji sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut,” terang Kiyai Sudirman.

Putera Kelahiran Tangerang tahun 1968 yang merupakan alumni pondok pesantren Salafiyah “Riyadul Sibiyan” pimpinan KH. Dulbara, dari Kota Serang ini juga menjelaskan, Metode sorogan dan wethonan merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan dan masih tetap eksis dan dipakai sampai saat ini. Adapun metode klasikal adalah metode sistem kelas yang tidak berbeda dengan sistem modern. Hanya saja bidang studi yang diajarkan mayoritas adalah keilmuan agama.

Kiyai Sudirman, Pendiri sekaligus Pengajar Pondok Pesantren Salafiyah “Al-Muhajirin” – (Photo: Dadi-bantengate.id)

“Disini santri diajarkan ilmu Fikih. Adapun kitab-kitab yang dipelajarinya yaitu, Riyyadul Bariyah, Sirrahsihin, Fattul Korib, dan Fattul Muin. Sementara untuk Al-Hadistnya, Tangkih Kaol, dan Durratun Nasihin,” jelasnya.

Kiyai Sudirman juga menjelaskan, hingga saat ini, terdapat 25 orang santri yang mukim untuk menimba ilmu di pondok pesantren “Al-Muhajirin”. Dalam menerapkan pendidikan terhadap santrinya, Kiyai Sudirman tetap mempertahankan ciri khas kultural yang terdapat dalam pesantren Salafiyah, dimana kepada setiap santri, ia selalu memberikan pelajaran agar selalu hormat dan santun kepada ustad atau kiyai dan juga seniornya, bahkan ia menyarankan kepada santrinya agar selalu menggunakan sarung dalam kesehariannya.

“Alhamdulillah Pondok Pesantren “Al-Muhajirin” ini bisa berdiri berkat dukungan masyarakat dan Pemerintah. Kendati belum bisa memenuhi harapan karena tempatnya yang masih terbatas, sehingga santri yang mau mukim untuk belajar disini terpaksa dibatasi. Namun saya sangat berterimakasih kepada masyarakat dan pemerintah yang telah banyak membantu. Semoga ini bisa menjadikan akses untuk syiar Islam guna memberikan ilmu agama yang bermanfaat kepada umat” tutup Kiyai Sudirman. – (dadi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *