Suparman, Lanjutkan Perjuangan Membangun Desa Gununganten  

LEBAK, BANTENGATE.ID—Pesta demokrasi perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di wilayah Kabupaten Lebak, Banten, sudah semakin dekat. Sesuai jadwal,  pemungutan suara akan dilaksanakan pada 24 Oktober 2021 mendatang.

Bacaan Lainnya

Ada 266 desa  dari sejumlah 340 desa di Kabupaten Lebak yang akan melaksanakan Pilkades serentak di tahun 2021 sekarang ini.

Suparman (55 tahun) merupakan salah satu calon Kepala Desa Gununganten, Kecamatan Cimarga. Ia maju kembali  dalam perhelatan Pilkades untuk melanjutkan pembangunan setelah dua kali menjabat berturut-turut.  Kali ini Suparman akan “bertarung” dengan satu kandidat  Rudaya, calon Kades yang menjadi pesaingnya  pada  Pilkades 2014 lalu.

Ayah dari tiga anak kelahiran Gununganten tahun 1966 ini, memiliki latar belakang  di dunia usaha dengan pendidikan dasar umum sebagaimana warga lainya. Namun Suparman memiliki kinerja yang ulet, sikap empati dan kepedulian dengan masyarakat yang tinggi, sehingga dipercaya memimpin Desa  Gununganten  selama dua periode (2009-2021).

“Saya mencalonkan diri untuk  menjadi Kades Gununganten di periode ketiga, karena masih harus meneruskan perjuangan membangun desa, terutama dalam prasarana perhubungan  jalan, ketersediaan air untuk sawah pertanian dan jembatan kali Ciujung di Kebon Kopi,” kata Suparman kepada Bantengate, dikediamannya, Selasa (14/9/2021).

Menurut Suparman, pelaksanaan program kerja sejak menjabat Kepala Desa Gununganten pada periode pertama adalah fokus membangun prasarana perhubungan jalan dari Kebon Kopi hingga Cikeuyeup. Jalan itu sekarang terbuka dan di aspal, sehingga Gununganten bisa diakses dengan mudah oleh kendaraan roda empat.

Kemudian, membangun ketersediaan pengairan untuk pesawahan. Sawah merupakan lumbung padi dan sumber penghasilan bagi warga. Sementara status pesawahan di Desa Gununganten seluas 180 hetar adalah tadah hujan yang hanya bisa tanam padi satu kali setahun.

“Alhamdulillah, sekarang  seluas 80 hektar pesawahan di blok Cikalong sejak enam  tahun lalu sudah tersedia kecukupan air. Para petani sudah bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. Air untuk pesawahan ditarik dengan menggunakan 3  pompa yang bersumber dari Kali Ciujung. Kemudian, air dialirkan  dengan membangun selokan serta pipa ke areal pesawahan,”kata Suparman.

Dimasa periode jabatan ketiga  progran kerja yang akan dilaksanakan adalah melanjutkan pembangunan ketersediaan air pesawahan di Blok Sawah Tadah.  Kemudian, akan melakukan pengecoran jalan tanjakan Narongtong, tanjakan Pasir Jengkol dan tanjakan Pasir Eurih.

Selain itu, tengah memperjuangkan ke Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas PUPR  untuk terealisasinya pembangunan jembatan permanen di Kampung Kebon Kopi. Jembatan ini akan menghubungkan Desa Gununganten dengan jalan raya Rangkasbitung – Malingping. Pembangunan jembatan permanen Kali Ciujung di Kebon Kopi akan direalisasi di tahun 2022. Sekarang kondisinya masih jembatan gantung dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.

“Jika jembatan permanen sudah di bangun, masyarakat bisa dengan mudah memasarkan hasil produksi pertanian (padi, pisang dan hasil tetanen) lainya  ke pasar Rangkasbitung dan sekitarya, sehingga kehidupan masyarakat akan semakin sejahtera,”kata Suparman yang mendapat nomor urut  1 dengan  warna bendera merah ini.

Dengan jargon; “Teruji kepemimpinannya, Terbukti kinerjanya, Lanjutkan Perjuangan Untuk Desa Gununganen”, Suparmam yakin akan berhasil dipilih kembali oleh masyarakat Desa Gununganten untuk melanjutkan jabatan Kepala Desa.

Jumlah penduduk Desa Gununganten sebanyak  4.750 jiwa, sementara jumlah  warga yang memiliki hak pilih sebanyak 3.200 jiwa.  Warga Desa Gununganten akan menggunakan hak suara di 7 (Tujuh) TPS yang tersebar di 9 perkampungan di desa ini.

Desa Gununganten, awalnya sebutan untuk sebuah nama  dusun (kampung) dan berusia sekitar sekitar 350 tahunan. Usia itu hampir  sama atau semasa dengan hadirnya para prajurit Kerajaan Sumedang ke Tigaraksa, Tangerang.

Menurut cerita sesepuh, Kerajaan Sumedang Larang yang merupakan bagan dari Pajajaran, kala itu mengutus dua orang jagoan perang, yaitu;  Patih  Raden Jayasakti dan Raden Jaya Perkasa. Kedua patih ini ditugaskan  untuk memimpin pasukan Kerajaan Sumedang  bertempur melawan pasukan Kesultanan Banten.

Perang yang banyak mengorbabankan jiwa itu berakhir dengan damai, dengan kehadiran Syeh Mubarok  keturunan Sykeh Mas Mas’ad, yang mencoba mendamaikan situasi perang tersebut.  Bahwa perang tak ada guannya. Dan kedua pasukan kerajaan ini pun, sepakat berdamai.

Patih Raden Jaya Perkasa kembali ke Sumedang hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di Dayeuh Luhur, bersama dengan Raja Sumedang Prabu Geusan Ulun dan para puggawa lainya.

Sedangkan, Patih Raden Jayaksakti dan beberapa pengikutnya  pergi ke dusun Gununganten dan  menetap hingga akhir hayatnya. Dusun Gununganten itu sendiri semula bernama Timbanganten, nama sebuah Kerajaan Timbangaanten  yang berpusat di Tegaluar, (bandung –sekarang). Namun penyebutanya berubah menjadi Gununganten.  Timbanganten  memilik makna; sebuah kerajaan, sebuah desa, yang rakyatnya hidup berkeadilan, rukun dan sejahtera.—(dimas)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *