Taman SMKN 2 Rangkasbitung, Sempat Viral Di Medsos Kini Sepi Pengunjung

BANTENGATE.ID, LEBAK, – Lahan pertanian SMK Negeri 2 Rangkasbitung seluas 1.3 hektar  di Jalan  Jendral sudirman KM.3 Narimbang Mulya, tepatnya di Kampung Ancol, Desa Narimbang Mulya, Kecamatan Rangkasbitung, kini sepi tak ada kegiatan praktek siswa ataupun kegiatan lainnya sejak pandemi covid-19.

Bacaan Lainnya

Sebelum munculnya pandemi covid-19, di lahan seluas itu  setiap hari para siswa melakukan uji coba dan memelihara berbagai jenis tanaman buah dan  bunga hias. Aneka pepohonan dan tanaman hias tersebut sempat viral di medsos dan menjadi daya tarik masyarakat.

“Iya betul, dulu sempat viral dan dijadikan spot foto bagi pengunjung khususnya kawula muda. Tempatnya sejuk dengan aneka  warna bunga tanaman hias. Namun semenjak wabah Covid 19 merebak, semua jadi sepi dan tidak ada kegiatan,” kata Abdurahman Taufik, Kajur Pertanian SMK 2 Rangkasbitung saat  Bantengate.id, berkunjung ke lokasi, Minggu (4/7/2021)

Menurut Taufik sejak proses belajar melalui Daring, ada rasa kerinduan yang mendalam terhadap para siswa-siswinya.

“Sebagai tenaga pendidik  dengan  kondisi saat ini dan mengharuskan proses  belajar mengajar dilakukan melalui Daring harus berusaha sebaik mungkin, agar para siswa mampu menyerap materi pelajaran. Sekalipun tak bisa di pungkiri terdapat juga kelemahannya, karena di daerah  belum seluruhnya terjangkau jaringan interntet dan siswa masih banyak yang belum memiliki alat komunikasi (HP) yang mendukung,” kata Taufik.

Menurut Taufik, pihaknya bersama dewan guru sering berdiskusi karena adanya kekhawatiran terhadap “lost generation” akibat sudah lama kegiatan belajar tidak dilakukan dengan tatap muka.

“Saya kaget juga setelah baca berita bantengate.id yang merelease sebanyak 415 siswa di Kabupaten Lebak, putus sekolah dan memilih menikah.  Apa jadinya jika hal ini tidak segera kita tangani dan mencari solusi terbaik. Sebagai  seorang  tenaga pendidik, saya sangat prihatin,” tutur Taufik.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan, kondisi kegiatan  belajar jarak jauh tidak sepenuhnya efektif dan terlalu lama libur menjadi penyebab mereka akhirnya memilih bekerja hingga menikah.

Baca juga 415 Siswa SMP di Lebak Putus Sekolah Selama Pandemi, Pilih Bekerja Hingga Menikah

“Sebagian siswa bertempat tinggal di area yang tidak tercover oleh jaringan telekomunikasi, ditambah tidak memiliki handphone untuk sarana belajar daring. Namun tidak dipungkiri ada juga sebagian siswa yang malas mengirimkan tugas online,”kata Wawan.

Hasil survei United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) mencatat, sebanyak 1% atau 938 anak usia 7 hingga 18 tahun putus sekolah karena terdampak pandemi virus corona Covid-19. Dari jumlah tersebut, 74% anak putus sekolah karena tidak ada biaya.–(wonk/dimas).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *